Kamis, 18 September 2008

cerpen nameless

Tidak Dinamai
Didanau ini aku adalah keturunan hawa yang berjalan beratus-ratus kilo dari tempat yang penuh dengan kericuhan serta manusia yang tidak mengenal parahnya rasa sakit serta jerit tangis manusia. Aku bermukim sesaat di kota ini, tempat jalan-jalan raya tak penuh sesak dengan kesakitan, harum dan getir orang-orang terdekat tidak tercium oleh inderaku. Bunga-bunga nan cantik tumbuh subur ditanah ini, hewan-hewan mungil mungkin mereka berbicara tanpa mengertiku. Dingin yang menyengat serta bau-bau alam dengan segala nyanyiannya. Adakah mereka semua tumbuh seiring usiaku yang mendekati dua dasawarsa?, atau mereka lebih berumur dari sepengetahuanku dan orang-orang sebelumku telah menamai mereka dengan sesuka hati meski diantara yang hidup dan yang mati dihadapanku saat ini saling mengenal tanpa bahasa dan nama. Perlukah mereka semua bernama?.
Tepat pukul 09.40 pagi. Hari belum terlalu matang oleh matahari. Aku masih duduk terdiam beralaskan tanah yang sedikit basah oleh sisa-sisa embun. Aku tidak sendirian, ditemani bayanganku yang mulai berkembang oleh mentari setengah siang yang cahaya hangatnya mengintipku dari celah-celah pohon tempat aku bersandar. Manusia itu menamai pohon itu beringin. Orang-orang menamai dan menyebut pohon itu sesukanya seperti mereka memberi nama pada anak yang baru terlahir dari darah dan rahim mereka padahal pohon itu tidak terlahir dari darah dan rahim mereka, dengan bagitu pula aku diberi nama. Aku tidak sendirian tetapi tidak juga dalam keramaian seperti ditiap sudut kota dimana aku hidup berbelas-belas tahun dengan segala kebisingan dan fatamorgana. Hiruk pikuk tanpa batas waktu tidak aku temui dalam pemandangan disini. Gemuruh kepenatan akan rutinitas kehidupan bukan lukisan yang tepat diletakkan disini. Tapi kota ini tidak mati, kota ini sangat hidup dalam ketenangannya. Hampir ditiap sudutnya tersimpan kembang-kembang ranum yang banyak dicari oleh pria-pria yang haus akan kepuasan biologis. Itulah keindahan lain dari kota ini, tetapi bukan menjadi tujuanku.
Seseorang yang dinamai penggembala dari kejauhan berputar-putar menggiring ternaknya adalah satu-satunya makhluk hidup sejenisku yang tertangkap penglihatanku sedari tadi. Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku tahu dia menikmati pekerjaannya. Mungkin aku sedang berbahagia, itu jawabku apabila dia melintas mencari tahu maksud keberadaanku. Begitu pula apabila dia bertanya lewat tatapan asingnya. Aku sedang membayangkan layaknya orang berpacaran, berpelukan, berciuman, bercumbu, hingga terbang melayang seperti hewan bersayap putih yang hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya.
Masih ku ingat lekat-lekat awal pertemuan itu. Setelah 9 bulan lamanya saling mengenalkan diri melalui dunia maya, hari itu aku lihat wujud fisik dari lelaki yang kerap meneleponku tanpa mengenal waktu. Lelaki berparas oriental, berperawakan lumayan tinggi, tidak gemuk tapi tidak juga kurus. Berambut sebatas leher dengan belah tengahnya, berkulit putih serta berpenampilan rapi selayaknya lelaki dewasa yang bekerja kantoran. Berbeda sekali dengan penampilanku yang kasual. Gadis beranjak dewasa yang tengah mengenyam pendidikan pada salah satu perguruan tinggi di Jakarta , tahun kedua. Berbadan kecil dengan tinggi tidak lebih dari 155cm, berambut panjang sebatas punggung yang tidak terlalu lurus, berkulit putih meski tak seputih lelaki keturunan Thiong hoa itu. Pertemuan yang cukup berkesan untuk sekedar makan malam dan menonton sebuah film bergenre romantis pada sebuah mall. Pertemuan yang singkat dan mengawali pertemuan-pertemuan berikutnya.
Aku sedang menunggu dia ditempat ini, ditempat yang tidak seorang pun tahu kecuali segala yang telah aku deskripsikan tadi. Kalau saja dia ada disini akan aku tunjukkan sketsa kerinduanku padanya. Kurindukan mulutnya yang haus, mulut dari lelaki yang telah kehilangan masa remajanya. Masa yang dia habiskan bersama seperangkat alat canggih hasil teknologi dan perempuan selain aku. Entahlah.. aku tidak mengerti dengan pasti apa yang menyibukkannya yang selalu menjadi keluhan dan ketidakpuasan akan hidup sehari-hari, begitupun dengan ketidakmengertianku dengan apa yang terjadi antara aku dan dia. Seperti sebuah drama, terselip romantisme tanpa kejelasan didalamnya. Kami tidak seberperasaan. Barang kali tiap adegan pada waktu dan tempat yang sama antara aku dan dia hanyalah sebuah kesenangan tanpa perlu banyak definisi. Kesenangan baginya tak perlu dinamai. Tak perlu diberi nama seperti orang tua memberi nama pada anak-anaknya yang baru lahir, tak perlu bernama seperti pohon-pohon, bunga-bunga, binatang-binatang, dan segala yang hidup miliki dari orang-orang yang telah menemukan mereka.
Kalau dia datang dan menemuiku, dia akan tahu aku terlalu merindukan peluknya, lembut bibirnya, hangat lidahnya yang semerbak bau tembakau seperti saat kali pertama dia menciumku di kantornya terdahulu. Seperti getah yang tertelan, juga kerinduan yang sempat tersia-siakan antara harus mengehentikannya atau menunggu kesempatan lain seperti itu yang mungkin. Dan memang menjadi mungkin pada puncak pertemuan dari segala pertemuan sebelumnya.
Tiap pertemuan selalu memberikan gairah baru untukku, gairah agar dia lumatkan aku tanpa perih. Terhitung ada 15 lingkaran pada kalenderku yang menandai tanggal-tanggal pertemuan kami, tak terasa 2 tahun yang singkat aku mengenalnya. Selanjutnya aku harus memendam gairah terdalam. Tak ada lagi tanggal-tanggal yang harus kulingkari pada kalenderku sebab badai dimusim ini menghantam hubungan yang tak bernama antara kami.
Aku menjadi tidak mengerti akan hal yang aku anggap paling aku tahu. Awal cerita yang indah tidak membuat manusia mampu mengeneralisasikan akhir dari cerita tersebut.
Si bunga baru yang disembunyikan dibalik punggung lelaki berparas oriental itu mendobrak kebungkamannya, memuntahkan kata-kata tak sedap dalam pembicaraan panjang lewat telepon dimalam yang pekat.
“ada hubungan apa antara kamu dan dia?” Tanya si bunga baru yang meracun itu
“nggak ada apa-apa! Tidak ada, Cuma sekedar teman!” Jawabku berusaha menenangkan keadaan meski aku tidak dalam keadaan tenang.
“memangnya kamu nggak bisa ya ditinggalin dia?!”. Nada suranya mulai meninggi
“apa yang harus ditinggalkan? Nggak ada yang harus ditinggalkan dan
meninggalkan antara aku dan dia karena memang nggak ada apa-apa.”jelasku
yang masih berusaha tenang.
“dengar ya!, dia cowok aku!”. Begitulah pengakuannya
“lalu kenapa?”
“aku nggak suka kamu berhubungan dengan dia dan curhat sama dia karena sebenarnya dia keberatan mendengar curhatan kamu! dan aku mewakili dia untuk bilang hal ini ke kamu!”.
“jadi kamu melarang aku berteman dengan dia?”
“aku nggak melarang kamu berteman dengan dia!.”
“lalu apa?, Perlu kamu tahu bahwa terakhir aku curhat sama dia kira-kira sebulan
yang lalu, aku pun jarang kontak sama dia karena kita punya kesibukan masing-
masing. Jadi bukan alasan kamu untuk marah-marah dan melarang aku berteman
dengan dia.” Ujarku yang mulai terpancing emosi karena pedih mendengar
pernyataannya.
“kamu kan sudah tunangan jadi curhat saja dengan tunangan kamu, nggak usah curhat dengan cowok orang!”begitulah pintanya.
Lagi-lagi aku terkejut mendengar pernyataannya yang mengetahui hal pribadiku meski tidak sesuai dengan realita yang aku jalani sebab aku batal bertunangan beberapa bulan yang lalu dengan lelaki yang merupakan salah satu orang terdekat orang tuaku.
“memang kenapa kalau aku sudah tunangan dan masih curhat dengan dia?”
Aku tak berusaha menyangkal pernyataannya dan berusaha menutupi kebenarannya karena mungkin lelaki cina itu telah membeberkan hal pribadiku kepadanya untuk mempertahankan perempuan itu yang terus mengintrogasiku, lagi pula aku tak ingin merusak hubungan mereka.
“ya jelas aku nggak suka!.” Jawabnya dengan tegas.
“kamu takut kehilangan dia?!”
“aku nggak takut kehiangan dia!”
“oh ya?, sebenarnya dengan kamu menelepon aku dan marah-marah seperti ini
sudah menandakan bahwa kamu takut kehilangan dia!” ucapku dengan tegas pula membalikkan pernyataannya.
“kamu pintar banget membalikkan keadaan ya?!” serunya dengan suara yang semakin meninggi.
“oh jelas, saya orang sosial yang tiap hari kerjanya berdiskusi, mengkritisi dan
menganalisis keadaan, Mbak! Jadi jangan harap bisa menang dalam berbiacra
dengan saya!.” Aku pun meradang
Si Bunga baru itu pun meledak-ledak dengan kata-kata yang kasar berusaha mencerca tanpa henti.
“Ok..ok..!” aku berusaha menghentikan caci makinya kepadaku.
“kita orang berpendidikan, kita bisa bicara baik-baik dengan logika bukan
emosi!.” Ajakku untuk meredam emosinya.
“aku memang bukan orang berpendidikan! Aku memang bukan orang baik!, jadi
nggak bisa bicara baik dan benar!.”
Aku terdiam sejenak mendengar pernyataannya tersebut sambil bertanya-tanya dalam hati, Inikah perempuan yang dipilih lelaki itu? Perempuan yang aku kira hampir sempurna lengkap dengan keintelektualitasannya?,ternyata jauh dari yang aku kira.
“ok, kita bisa bicara secara perempuan kan ?”
“siapa bilang aku cowok!, jelas aku ceweklah!.” Tuturnya dengan gamang.
Aku sedikit tertawa menghadapinya yang tidak mengerti dengan maksud ucapanku.
“maksudnya kita bisa bicara dari hati ke hati sebagai perempuan, Mbak!” ucapku mencoba menjelaskan.
“aku nggak mau tahu, yang jelas aku ceweknya dan aku nggak suka kamu
berhubungan dengan dia dan masih curhat sama dia!.”
“ya sudah kalau begitu suruh dia telepon aku dan setelah itu aku nggak akan
berhubungan lagi dengan dia!.” Pintaku untuk menyelesaikan masalah.
“ngapain? Nanti kamu ngadu sama dia!”
“udahlah, kalau begitu anda salah orang!.”
Aku segera menutup pembicaraan itu dengan mematikan telepon selularku.

Aku menjadi tidak mengerti akan hal yang aku anggap paling aku tahu. Awal cerita yang indah tidak membuat manusia mampu mengeneralisasikan akhir dari cerita tersebut.

Tidak ada komentar: