Selasa, 02 September 2008

di balik cerita KMPSR '05

KMPSR ‘05 yaitu Keluarga Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Reguler 2005 di UNJ. KMPSR ‘05 merupakan nama kelas kebanggaan dari mahasiswa/i pendidikan sosiologi yang merupakan angkatan pertama yang terseleksi melalui jalur SPMB pada jurusan sosiologi UNJ. Didalamnya terdapat 25 mahasiswa, 20 perempuan dan 5 laki-laki yang berasal dari beberapa kota di Indonesia, diantaranya berasal dari kota Bekasi, Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, bahkan ada yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat dan Jawa Barat. Mereka tergabung dalam satu kelas yang dikenal aktif oleh dosen-dosen sosiologi di UNJ, begitulah menurut penuturan salah satu staff pengajar jurusan sosiologi serta menurut beberapa pengakuan dosen-dosen yang pernah mengajar mahasiswa pendidikan sosiologi regular ’05. Meski berasal dari daerah yang berbeda-beda namun tidak terdapat banyak kendala besar yang dihadapi KMPSR ’05 tersebut, hal itu terbukti dari proses sosialisasi dan interaksi yang berjalan dengan baik dan lancar dalam proses awal perkuliahan hingga sekarang ini yang telah memasuki tahun ketiga. Bukan hanya terkenal aktif dalam berbagai diskusi kelas tiap mata kuliah, tetapi juga menurut penuturan senior sosiologi angkatan 2004 yang tidak mau disebutkan namanya tersebut, KMPSR ’05 merupakan kelas terkompak atau tersolid dalam istilah bahasa gaulnya diantara kelas yang lainnya dijurusan sosiologi sejak menjalani masa pengenalan akademik pada awal masuk UNJ. Berdasarkan indeks prestasi semesternya pun mahasiswa sosiologi reg’05 tersebut sangat membanggakan, dimana dalam indeks prestasi kumulatifnya mencapai rata-rata 3 koma. Namun kesuksesan dalam indeks prestasi tersebut tidak diikuti dengan prestasi dalam organisasi-organisasi atau unit kegiatan mahasiswa yang ada di UNJ. Terhitung hanya beberapa orang saja yang aktif mengikuti organisasi seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIS dan beberapa organisasi diluar UNJ, selebihnya mereka menjadi mahasiswa yang sepi dari berbagai kegiatan yang tidak ada keterkaitannya dengan kegiatan perkuliahan.
Tentunya dalam suatu kelas terdapat suatu struktur yang membantu dan membangun proses berjalannya perkuliahan sebagaimana sebuah organisasi dibentuk, begitu pun halnya dengan KMPSR ’05 tersebut yang memiliki struktur yang tak pernah berubah sejak awal terbentuknya. KMPSR ’05 diketuai oleh Teuku Tiar Hardiansyah, seorang mahasiswa keturunan Aceh dan Betawi yang berdomisili di Ciganjur, Jakarta Selatan. Seorang ketua yang selalu rela berkorban dalam hal materi maupun non materi untuk tetap menjaga komunikasi pada tiap rekan-rekannya yang tentunya guna menunjang lancarnya perkuliahan. Wakil ketua KMPSR ’05 adalah Ahmad Tarmiji Alqudri, seorang yang cukup religius dan genius tetapi sedikit tak ramah dalam membagi ilmunya, begitulah menurut beberapa rekan-rekannya. Berikutnya jabatan sekretaris I dijabat oleh Archita Deasy, wanita mungil yang aktif dalam organisasi kampus tetapi tidak diiringi dengan absent kuliah yang bagus. Jabatan sekretaris II dijabat oleh Fitri Maharis melalui pengangkatan jabatan secara khusus karena dipilih langsung oleh ketua KMPSR ’05 dan tentunya dengan persetujuan rekan-rekan dalam KMPSR ’05. Jabatan lainnya yaitu bendahara di pegang oleh Dewi Agustina Sianturi, mahasiswi asal Depok berdarah Batak yang kerap menjadi icon dikelas.
Dalam KMPSR ’05 ini juga terdapat fenomena kebanyakan seperti yang terjadi pada kelas-kelas lain dimana terbentuknya kelompok-kelompok keakraban tertentu, diantaranya adalah nine geisha dan power rangers. Nine geisha terdiri dari 9 mahasiswi yang menarik dan penuh suka cita serta berbagai keanehan-keanehan dalam interaksinya. Mereka terkenal kompak dan memiliki solidaritas yang tinggi satu sama lain. Mereka juga terkenal heboh dan selalu tak terpisahkan hingga tak heran mereka menjadi salah satu kelompok yang sukses yang dapat menarik perhatian dari kelas-kelas lain. Meski tak pernah berniat untuk menambah jumlah anggotanya, kelompok nine geisha ini tak pernah menutup diri atau sekedar membatasi diri dengan siapapun. Mereka selalu membaur bersama mahasiswa lain dan tak segan untuk mengajak rekan-rekan diluar nine geisha untuk bergabung dalam acara internnya. Sesuai dengan jurusan yang menaunginya yaitu sosiologi, mereka selalu bersosialisasi dengan baik dikelas maupun diluar kelas. Nine geisha kerap menjadi kelompok penghibur kelas dengan ide-ide yang terkadang diluar logika, bahkan ketika berada diluar kelas mereka tak malu-malu menunjukkan eksistensi mereka pada komunitas UNJ. Tetapi mereka bukan kelompok yang bergaya borjuis ataupun kelompok yang mengganggu keberadaan kelompok lain. Mereka kelompok yang senantiasa bergaya proletar yang tidak mengenal tempat untuk berkumpul, dimana pun mereka selalu merasa nyaman.
Kelompok lain yang juga terbentuk dengan sendirinya yaitu power rangers. Kelompok yang terdiri dari 5 orang mahasiswa gagah perkasa yang senantiasa selalu melindungi KMPSR ’05 dalam hal dan keadaan apapun. Jumlahnya yang minoritas dari perempuan membuat mereka sangat kompak dan akrab. Tetapi meski dalam jumlah yang minoritas tersebut tak membuat mereka menjauh dari nine geisha atau mahaiswi lain dikelas, mereka juga mengikuti jejak nine geisha yang selalu membaur dan bergabung dengan siapapun.
Begitulah sedikit pengamatan mengenai KMPSR ’05 di UNJ yang dapat mengungkapkan sedikit cerita dibalik kelas yang aktif, kompak dan taat peraturan. Sebuah pengamatan yang tidak terlepas dari sosialisasi dan interaksi.

Tidak ada komentar: