-Nama Organisasi: FORMADA ( FORUM REMAJA DAN AKSI )
-Tujuan Organisasi :
menciptakan pemuda dan pemudi yang aktif dalam kegiatan sosial masyarakat
menciptakan pemuda dan pemudi yang kreatif dan berjiwa sosial tinggi
menciptakan pemuda dan pemudi yang memiliki pengalaman dan pergaulan luas dalam berorganisasi serta positif
mencitakan pemuda dan pemudi yang bertanggung jawab dan memiliki solidaritas tinggi
menciptakan pemuda dan pemudi yang lebih peduli terhadap lingkungan sekitar
menciptakan rukun tetangga yang harmonis.
-Jumlah anggota : 36 orang
-Klasifikasi berdasarkan jenis kelamin :
1. Laki-laki : 20 orang
2. Perempuan : 16 orang
-Klasifikasi berdasarkan umur:
umur 14-18 th : 11 orang
umur 19-23 th : 17 orang
umur 24-28 th : 8 orang
-Klasifikasi berdasarkan suku bangsa :
Jawa : 20 orang
Betawi : 13 orang
Batak : 1 orang
Palembang : 1 orang
Lampung : 1 orang
-Klasifikasi berdasarkan pekerjaan :
Pelajar : 12 orang
Mahasiswa : 4 orang
Karyawan swasta : 17 orang
Guru : 2 0rang
Pengangguran : 1 orang
FORUM REMAJA DAN AKSI
(FORMADA)
Jl. Bintara 13 Rt. 07/013 Kelurahan Bintara Bekasi Barat
KODYA BEKASI
Susunan Kepengurusan FORMADA :
Ketua : Ahmad Setianto
Wakil Ketua : Faja Maharani
Sekretaris : Ahmad Fauzi
Bendahara : 1.Rienesha Maharis
2.Angkat Pranoto
Seksi rohani : 1.Novan
2.Ida Maryati
Seksi olahraga : 1.Yono
2.Yanto
Seksi kesenian : 1.Ferry
2.Erki Fitriani
3.Johan
Seksi perlengkapan : 1.Didin
2.Agus
Seksi Keamanan : 1.Erlan
2.Didi
3.Brama
Senin, 24 November 2008
Kamis, 30 Oktober 2008
new heart
terserah orang mu berkata apa ttg gw saat ini,, yg jlas ga da satu orang pun yg dapat menepis takdir atau pun anugerah,, begitu juga dengan gw yg belakangan ini ngrasa kurang waras coz anugerah atau musibah yg Dia kasih. gw cuma bisa mensyukurinya. seneng coz kekecewaan gw telah sembuh dengan keberadaan dia yg ga pernah terduga..
,,,,,,,,,,,,,NAR,,,,,,,,,,,,,,,
jangan menatapku seperti itu,,
kalau saja kau tahu
aku tak mampu melawan tatapmu lebih dari sedetik
jangan terlalu kerap kau menghampiriku
karena akan semakin banyak kesanmu
yang merusak akal sehatku
jangan perbanyak kata-katamu
untuk berbincang denganku
aku takut kau akan tahu
aku sedang mencoba meracunimu
seperti kau telah membiusku
melalui mata paling binar milikmu,
lewat senyum paling dalam lelaki lugu,
bibir mungil nan merahmu,hidung mancung elok sempurnamu,
atau dengan tingkah lugu yang menggodaku
menggoda untuk aku sentuh
seperti pernah aku sentuh seluruh wajahmu
atau seperti pernah ku jamah bahu dan punggungmu
berhenti, Nar,,
aku tiba pada jurang ketidakmampuan
tidak mampu menghentikan senyumku
ketika mengingat kita berdua disiang itu
tidak mampu menahan mataku
untuk mengintaimu di sudut-sudut situ
aku terjatuh pada lembah kebimbangan
bimbang menyadarkan siapa “aku” untukmu
bimbang membuang sketsamu
untuk keluar dari imajinasiku
bimbang mencari celah untuk selingkuh
atau meninggalkanmu sesuai berlakunya waktu.
26 Oktober 2008, pukul 16.05
dedicated to,,,, Nar,,,
,,,,,,,,,,,,,NAR,,,,,,,,,,,,,,,
jangan menatapku seperti itu,,
kalau saja kau tahu
aku tak mampu melawan tatapmu lebih dari sedetik
jangan terlalu kerap kau menghampiriku
karena akan semakin banyak kesanmu
yang merusak akal sehatku
jangan perbanyak kata-katamu
untuk berbincang denganku
aku takut kau akan tahu
aku sedang mencoba meracunimu
seperti kau telah membiusku
melalui mata paling binar milikmu,
lewat senyum paling dalam lelaki lugu,
bibir mungil nan merahmu,hidung mancung elok sempurnamu,
atau dengan tingkah lugu yang menggodaku
menggoda untuk aku sentuh
seperti pernah aku sentuh seluruh wajahmu
atau seperti pernah ku jamah bahu dan punggungmu
berhenti, Nar,,
aku tiba pada jurang ketidakmampuan
tidak mampu menghentikan senyumku
ketika mengingat kita berdua disiang itu
tidak mampu menahan mataku
untuk mengintaimu di sudut-sudut situ
aku terjatuh pada lembah kebimbangan
bimbang menyadarkan siapa “aku” untukmu
bimbang membuang sketsamu
untuk keluar dari imajinasiku
bimbang mencari celah untuk selingkuh
atau meninggalkanmu sesuai berlakunya waktu.
26 Oktober 2008, pukul 16.05
dedicated to,,,, Nar,,,
Senin, 20 Oktober 2008
not meaning..
aku memang kalah tak mampu meraih hatimu,, aku memang kalah tak mampu meraih jiwa dan ragamu,, tp aku tak kalah dalam mencintaimu sebagaimana mereka yang telah meraih hati dan jiwa ragamu,, atau mungkin aku yang menang karena aku masih mencintaimu dalam kekalahan, meski aku telah putus asa..
mungkin saat jalan-jalan sudah kau tutup untuk aku memelukmu, aku masih mencarimu meski hanya dalam dunia maya.. mungkin saat waktu mulai kau kunci untuk mendengar suaramu, aku masih menunggumu meski kau telah lenyap bersama lain wanita.. atau mungkin saat kututup rapat-rapat pintu dan jendela untuk lari dari derita dibawa, aku masih mencintaimu meski telah putus asa.. dan ketika tidak ada lagi tanda-tanda serta aku kehilangan arah untuk menemukanmu, ditempat inilah aku terbiasa menunggumu meski aku telah putus asa.
(dulu waktu gw bikin kalimat2 ini, rasanya so sweet bgt,,gw baca berulang2 seperti remaja2 membaca surat cinta dari pasangannya, seperti pujangga yg rela menderita untuk pujaannya, seperti pelukis yg sangat mengagungkan karya lukisnya, seperti penyanyi yg menciptakan lagu hits, semua terasa amazing pada masanya,tp skarang gw ngrasa kalimat2 yg terangkai itu lebaaay bgt alias super berlebihan. aaaaaah muak gw dengan fanatisme buta seperti yg gw gambarkan pada pengakuan di atas. ketika semua berubah secara revolusioner,, that's nothing. memikirkan hal yg lebih real jauh lebih berharga dari sekedar jd budak kekaguman..).
mungkin saat jalan-jalan sudah kau tutup untuk aku memelukmu, aku masih mencarimu meski hanya dalam dunia maya.. mungkin saat waktu mulai kau kunci untuk mendengar suaramu, aku masih menunggumu meski kau telah lenyap bersama lain wanita.. atau mungkin saat kututup rapat-rapat pintu dan jendela untuk lari dari derita dibawa, aku masih mencintaimu meski telah putus asa.. dan ketika tidak ada lagi tanda-tanda serta aku kehilangan arah untuk menemukanmu, ditempat inilah aku terbiasa menunggumu meski aku telah putus asa.
(dulu waktu gw bikin kalimat2 ini, rasanya so sweet bgt,,gw baca berulang2 seperti remaja2 membaca surat cinta dari pasangannya, seperti pujangga yg rela menderita untuk pujaannya, seperti pelukis yg sangat mengagungkan karya lukisnya, seperti penyanyi yg menciptakan lagu hits, semua terasa amazing pada masanya,tp skarang gw ngrasa kalimat2 yg terangkai itu lebaaay bgt alias super berlebihan. aaaaaah muak gw dengan fanatisme buta seperti yg gw gambarkan pada pengakuan di atas. ketika semua berubah secara revolusioner,, that's nothing. memikirkan hal yg lebih real jauh lebih berharga dari sekedar jd budak kekaguman..).
Kamis, 18 September 2008
cerpen nameless
Tidak Dinamai
Didanau ini aku adalah keturunan hawa yang berjalan beratus-ratus kilo dari tempat yang penuh dengan kericuhan serta manusia yang tidak mengenal parahnya rasa sakit serta jerit tangis manusia. Aku bermukim sesaat di kota ini, tempat jalan-jalan raya tak penuh sesak dengan kesakitan, harum dan getir orang-orang terdekat tidak tercium oleh inderaku. Bunga-bunga nan cantik tumbuh subur ditanah ini, hewan-hewan mungil mungkin mereka berbicara tanpa mengertiku. Dingin yang menyengat serta bau-bau alam dengan segala nyanyiannya. Adakah mereka semua tumbuh seiring usiaku yang mendekati dua dasawarsa?, atau mereka lebih berumur dari sepengetahuanku dan orang-orang sebelumku telah menamai mereka dengan sesuka hati meski diantara yang hidup dan yang mati dihadapanku saat ini saling mengenal tanpa bahasa dan nama. Perlukah mereka semua bernama?.
Tepat pukul 09.40 pagi. Hari belum terlalu matang oleh matahari. Aku masih duduk terdiam beralaskan tanah yang sedikit basah oleh sisa-sisa embun. Aku tidak sendirian, ditemani bayanganku yang mulai berkembang oleh mentari setengah siang yang cahaya hangatnya mengintipku dari celah-celah pohon tempat aku bersandar. Manusia itu menamai pohon itu beringin. Orang-orang menamai dan menyebut pohon itu sesukanya seperti mereka memberi nama pada anak yang baru terlahir dari darah dan rahim mereka padahal pohon itu tidak terlahir dari darah dan rahim mereka, dengan bagitu pula aku diberi nama. Aku tidak sendirian tetapi tidak juga dalam keramaian seperti ditiap sudut kota dimana aku hidup berbelas-belas tahun dengan segala kebisingan dan fatamorgana. Hiruk pikuk tanpa batas waktu tidak aku temui dalam pemandangan disini. Gemuruh kepenatan akan rutinitas kehidupan bukan lukisan yang tepat diletakkan disini. Tapi kota ini tidak mati, kota ini sangat hidup dalam ketenangannya. Hampir ditiap sudutnya tersimpan kembang-kembang ranum yang banyak dicari oleh pria-pria yang haus akan kepuasan biologis. Itulah keindahan lain dari kota ini, tetapi bukan menjadi tujuanku.
Seseorang yang dinamai penggembala dari kejauhan berputar-putar menggiring ternaknya adalah satu-satunya makhluk hidup sejenisku yang tertangkap penglihatanku sedari tadi. Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku tahu dia menikmati pekerjaannya. Mungkin aku sedang berbahagia, itu jawabku apabila dia melintas mencari tahu maksud keberadaanku. Begitu pula apabila dia bertanya lewat tatapan asingnya. Aku sedang membayangkan layaknya orang berpacaran, berpelukan, berciuman, bercumbu, hingga terbang melayang seperti hewan bersayap putih yang hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya.
Masih ku ingat lekat-lekat awal pertemuan itu. Setelah 9 bulan lamanya saling mengenalkan diri melalui dunia maya, hari itu aku lihat wujud fisik dari lelaki yang kerap meneleponku tanpa mengenal waktu. Lelaki berparas oriental, berperawakan lumayan tinggi, tidak gemuk tapi tidak juga kurus. Berambut sebatas leher dengan belah tengahnya, berkulit putih serta berpenampilan rapi selayaknya lelaki dewasa yang bekerja kantoran. Berbeda sekali dengan penampilanku yang kasual. Gadis beranjak dewasa yang tengah mengenyam pendidikan pada salah satu perguruan tinggi di Jakarta , tahun kedua. Berbadan kecil dengan tinggi tidak lebih dari 155cm, berambut panjang sebatas punggung yang tidak terlalu lurus, berkulit putih meski tak seputih lelaki keturunan Thiong hoa itu. Pertemuan yang cukup berkesan untuk sekedar makan malam dan menonton sebuah film bergenre romantis pada sebuah mall. Pertemuan yang singkat dan mengawali pertemuan-pertemuan berikutnya.
Aku sedang menunggu dia ditempat ini, ditempat yang tidak seorang pun tahu kecuali segala yang telah aku deskripsikan tadi. Kalau saja dia ada disini akan aku tunjukkan sketsa kerinduanku padanya. Kurindukan mulutnya yang haus, mulut dari lelaki yang telah kehilangan masa remajanya. Masa yang dia habiskan bersama seperangkat alat canggih hasil teknologi dan perempuan selain aku. Entahlah.. aku tidak mengerti dengan pasti apa yang menyibukkannya yang selalu menjadi keluhan dan ketidakpuasan akan hidup sehari-hari, begitupun dengan ketidakmengertianku dengan apa yang terjadi antara aku dan dia. Seperti sebuah drama, terselip romantisme tanpa kejelasan didalamnya. Kami tidak seberperasaan. Barang kali tiap adegan pada waktu dan tempat yang sama antara aku dan dia hanyalah sebuah kesenangan tanpa perlu banyak definisi. Kesenangan baginya tak perlu dinamai. Tak perlu diberi nama seperti orang tua memberi nama pada anak-anaknya yang baru lahir, tak perlu bernama seperti pohon-pohon, bunga-bunga, binatang-binatang, dan segala yang hidup miliki dari orang-orang yang telah menemukan mereka.
Kalau dia datang dan menemuiku, dia akan tahu aku terlalu merindukan peluknya, lembut bibirnya, hangat lidahnya yang semerbak bau tembakau seperti saat kali pertama dia menciumku di kantornya terdahulu. Seperti getah yang tertelan, juga kerinduan yang sempat tersia-siakan antara harus mengehentikannya atau menunggu kesempatan lain seperti itu yang mungkin. Dan memang menjadi mungkin pada puncak pertemuan dari segala pertemuan sebelumnya.
Tiap pertemuan selalu memberikan gairah baru untukku, gairah agar dia lumatkan aku tanpa perih. Terhitung ada 15 lingkaran pada kalenderku yang menandai tanggal-tanggal pertemuan kami, tak terasa 2 tahun yang singkat aku mengenalnya. Selanjutnya aku harus memendam gairah terdalam. Tak ada lagi tanggal-tanggal yang harus kulingkari pada kalenderku sebab badai dimusim ini menghantam hubungan yang tak bernama antara kami.
Aku menjadi tidak mengerti akan hal yang aku anggap paling aku tahu. Awal cerita yang indah tidak membuat manusia mampu mengeneralisasikan akhir dari cerita tersebut.
Si bunga baru yang disembunyikan dibalik punggung lelaki berparas oriental itu mendobrak kebungkamannya, memuntahkan kata-kata tak sedap dalam pembicaraan panjang lewat telepon dimalam yang pekat.
“ada hubungan apa antara kamu dan dia?” Tanya si bunga baru yang meracun itu
“nggak ada apa-apa! Tidak ada, Cuma sekedar teman!” Jawabku berusaha menenangkan keadaan meski aku tidak dalam keadaan tenang.
“memangnya kamu nggak bisa ya ditinggalin dia?!”. Nada suranya mulai meninggi
“apa yang harus ditinggalkan? Nggak ada yang harus ditinggalkan dan
meninggalkan antara aku dan dia karena memang nggak ada apa-apa.”jelasku
yang masih berusaha tenang.
“dengar ya!, dia cowok aku!”. Begitulah pengakuannya
“lalu kenapa?”
“aku nggak suka kamu berhubungan dengan dia dan curhat sama dia karena sebenarnya dia keberatan mendengar curhatan kamu! dan aku mewakili dia untuk bilang hal ini ke kamu!”.
“jadi kamu melarang aku berteman dengan dia?”
“aku nggak melarang kamu berteman dengan dia!.”
“lalu apa?, Perlu kamu tahu bahwa terakhir aku curhat sama dia kira-kira sebulan
yang lalu, aku pun jarang kontak sama dia karena kita punya kesibukan masing-
masing. Jadi bukan alasan kamu untuk marah-marah dan melarang aku berteman
dengan dia.” Ujarku yang mulai terpancing emosi karena pedih mendengar
pernyataannya.
“kamu kan sudah tunangan jadi curhat saja dengan tunangan kamu, nggak usah curhat dengan cowok orang!”begitulah pintanya.
Lagi-lagi aku terkejut mendengar pernyataannya yang mengetahui hal pribadiku meski tidak sesuai dengan realita yang aku jalani sebab aku batal bertunangan beberapa bulan yang lalu dengan lelaki yang merupakan salah satu orang terdekat orang tuaku.
“memang kenapa kalau aku sudah tunangan dan masih curhat dengan dia?”
Aku tak berusaha menyangkal pernyataannya dan berusaha menutupi kebenarannya karena mungkin lelaki cina itu telah membeberkan hal pribadiku kepadanya untuk mempertahankan perempuan itu yang terus mengintrogasiku, lagi pula aku tak ingin merusak hubungan mereka.
“ya jelas aku nggak suka!.” Jawabnya dengan tegas.
“kamu takut kehilangan dia?!”
“aku nggak takut kehiangan dia!”
“oh ya?, sebenarnya dengan kamu menelepon aku dan marah-marah seperti ini
sudah menandakan bahwa kamu takut kehilangan dia!” ucapku dengan tegas pula membalikkan pernyataannya.
“kamu pintar banget membalikkan keadaan ya?!” serunya dengan suara yang semakin meninggi.
“oh jelas, saya orang sosial yang tiap hari kerjanya berdiskusi, mengkritisi dan
menganalisis keadaan, Mbak! Jadi jangan harap bisa menang dalam berbiacra
dengan saya!.” Aku pun meradang
Si Bunga baru itu pun meledak-ledak dengan kata-kata yang kasar berusaha mencerca tanpa henti.
“Ok..ok..!” aku berusaha menghentikan caci makinya kepadaku.
“kita orang berpendidikan, kita bisa bicara baik-baik dengan logika bukan
emosi!.” Ajakku untuk meredam emosinya.
“aku memang bukan orang berpendidikan! Aku memang bukan orang baik!, jadi
nggak bisa bicara baik dan benar!.”
Aku terdiam sejenak mendengar pernyataannya tersebut sambil bertanya-tanya dalam hati, Inikah perempuan yang dipilih lelaki itu? Perempuan yang aku kira hampir sempurna lengkap dengan keintelektualitasannya?,ternyata jauh dari yang aku kira.
“ok, kita bisa bicara secara perempuan kan ?”
“siapa bilang aku cowok!, jelas aku ceweklah!.” Tuturnya dengan gamang.
Aku sedikit tertawa menghadapinya yang tidak mengerti dengan maksud ucapanku.
“maksudnya kita bisa bicara dari hati ke hati sebagai perempuan, Mbak!” ucapku mencoba menjelaskan.
“aku nggak mau tahu, yang jelas aku ceweknya dan aku nggak suka kamu
berhubungan dengan dia dan masih curhat sama dia!.”
“ya sudah kalau begitu suruh dia telepon aku dan setelah itu aku nggak akan
berhubungan lagi dengan dia!.” Pintaku untuk menyelesaikan masalah.
“ngapain? Nanti kamu ngadu sama dia!”
“udahlah, kalau begitu anda salah orang!.”
Aku segera menutup pembicaraan itu dengan mematikan telepon selularku.
Aku menjadi tidak mengerti akan hal yang aku anggap paling aku tahu. Awal cerita yang indah tidak membuat manusia mampu mengeneralisasikan akhir dari cerita tersebut.
Didanau ini aku adalah keturunan hawa yang berjalan beratus-ratus kilo dari tempat yang penuh dengan kericuhan serta manusia yang tidak mengenal parahnya rasa sakit serta jerit tangis manusia. Aku bermukim sesaat di kota ini, tempat jalan-jalan raya tak penuh sesak dengan kesakitan, harum dan getir orang-orang terdekat tidak tercium oleh inderaku. Bunga-bunga nan cantik tumbuh subur ditanah ini, hewan-hewan mungil mungkin mereka berbicara tanpa mengertiku. Dingin yang menyengat serta bau-bau alam dengan segala nyanyiannya. Adakah mereka semua tumbuh seiring usiaku yang mendekati dua dasawarsa?, atau mereka lebih berumur dari sepengetahuanku dan orang-orang sebelumku telah menamai mereka dengan sesuka hati meski diantara yang hidup dan yang mati dihadapanku saat ini saling mengenal tanpa bahasa dan nama. Perlukah mereka semua bernama?.
Tepat pukul 09.40 pagi. Hari belum terlalu matang oleh matahari. Aku masih duduk terdiam beralaskan tanah yang sedikit basah oleh sisa-sisa embun. Aku tidak sendirian, ditemani bayanganku yang mulai berkembang oleh mentari setengah siang yang cahaya hangatnya mengintipku dari celah-celah pohon tempat aku bersandar. Manusia itu menamai pohon itu beringin. Orang-orang menamai dan menyebut pohon itu sesukanya seperti mereka memberi nama pada anak yang baru terlahir dari darah dan rahim mereka padahal pohon itu tidak terlahir dari darah dan rahim mereka, dengan bagitu pula aku diberi nama. Aku tidak sendirian tetapi tidak juga dalam keramaian seperti ditiap sudut kota dimana aku hidup berbelas-belas tahun dengan segala kebisingan dan fatamorgana. Hiruk pikuk tanpa batas waktu tidak aku temui dalam pemandangan disini. Gemuruh kepenatan akan rutinitas kehidupan bukan lukisan yang tepat diletakkan disini. Tapi kota ini tidak mati, kota ini sangat hidup dalam ketenangannya. Hampir ditiap sudutnya tersimpan kembang-kembang ranum yang banyak dicari oleh pria-pria yang haus akan kepuasan biologis. Itulah keindahan lain dari kota ini, tetapi bukan menjadi tujuanku.
Seseorang yang dinamai penggembala dari kejauhan berputar-putar menggiring ternaknya adalah satu-satunya makhluk hidup sejenisku yang tertangkap penglihatanku sedari tadi. Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku tahu dia menikmati pekerjaannya. Mungkin aku sedang berbahagia, itu jawabku apabila dia melintas mencari tahu maksud keberadaanku. Begitu pula apabila dia bertanya lewat tatapan asingnya. Aku sedang membayangkan layaknya orang berpacaran, berpelukan, berciuman, bercumbu, hingga terbang melayang seperti hewan bersayap putih yang hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya.
Masih ku ingat lekat-lekat awal pertemuan itu. Setelah 9 bulan lamanya saling mengenalkan diri melalui dunia maya, hari itu aku lihat wujud fisik dari lelaki yang kerap meneleponku tanpa mengenal waktu. Lelaki berparas oriental, berperawakan lumayan tinggi, tidak gemuk tapi tidak juga kurus. Berambut sebatas leher dengan belah tengahnya, berkulit putih serta berpenampilan rapi selayaknya lelaki dewasa yang bekerja kantoran. Berbeda sekali dengan penampilanku yang kasual. Gadis beranjak dewasa yang tengah mengenyam pendidikan pada salah satu perguruan tinggi di Jakarta , tahun kedua. Berbadan kecil dengan tinggi tidak lebih dari 155cm, berambut panjang sebatas punggung yang tidak terlalu lurus, berkulit putih meski tak seputih lelaki keturunan Thiong hoa itu. Pertemuan yang cukup berkesan untuk sekedar makan malam dan menonton sebuah film bergenre romantis pada sebuah mall. Pertemuan yang singkat dan mengawali pertemuan-pertemuan berikutnya.
Aku sedang menunggu dia ditempat ini, ditempat yang tidak seorang pun tahu kecuali segala yang telah aku deskripsikan tadi. Kalau saja dia ada disini akan aku tunjukkan sketsa kerinduanku padanya. Kurindukan mulutnya yang haus, mulut dari lelaki yang telah kehilangan masa remajanya. Masa yang dia habiskan bersama seperangkat alat canggih hasil teknologi dan perempuan selain aku. Entahlah.. aku tidak mengerti dengan pasti apa yang menyibukkannya yang selalu menjadi keluhan dan ketidakpuasan akan hidup sehari-hari, begitupun dengan ketidakmengertianku dengan apa yang terjadi antara aku dan dia. Seperti sebuah drama, terselip romantisme tanpa kejelasan didalamnya. Kami tidak seberperasaan. Barang kali tiap adegan pada waktu dan tempat yang sama antara aku dan dia hanyalah sebuah kesenangan tanpa perlu banyak definisi. Kesenangan baginya tak perlu dinamai. Tak perlu diberi nama seperti orang tua memberi nama pada anak-anaknya yang baru lahir, tak perlu bernama seperti pohon-pohon, bunga-bunga, binatang-binatang, dan segala yang hidup miliki dari orang-orang yang telah menemukan mereka.
Kalau dia datang dan menemuiku, dia akan tahu aku terlalu merindukan peluknya, lembut bibirnya, hangat lidahnya yang semerbak bau tembakau seperti saat kali pertama dia menciumku di kantornya terdahulu. Seperti getah yang tertelan, juga kerinduan yang sempat tersia-siakan antara harus mengehentikannya atau menunggu kesempatan lain seperti itu yang mungkin. Dan memang menjadi mungkin pada puncak pertemuan dari segala pertemuan sebelumnya.
Tiap pertemuan selalu memberikan gairah baru untukku, gairah agar dia lumatkan aku tanpa perih. Terhitung ada 15 lingkaran pada kalenderku yang menandai tanggal-tanggal pertemuan kami, tak terasa 2 tahun yang singkat aku mengenalnya. Selanjutnya aku harus memendam gairah terdalam. Tak ada lagi tanggal-tanggal yang harus kulingkari pada kalenderku sebab badai dimusim ini menghantam hubungan yang tak bernama antara kami.
Aku menjadi tidak mengerti akan hal yang aku anggap paling aku tahu. Awal cerita yang indah tidak membuat manusia mampu mengeneralisasikan akhir dari cerita tersebut.
Si bunga baru yang disembunyikan dibalik punggung lelaki berparas oriental itu mendobrak kebungkamannya, memuntahkan kata-kata tak sedap dalam pembicaraan panjang lewat telepon dimalam yang pekat.
“ada hubungan apa antara kamu dan dia?” Tanya si bunga baru yang meracun itu
“nggak ada apa-apa! Tidak ada, Cuma sekedar teman!” Jawabku berusaha menenangkan keadaan meski aku tidak dalam keadaan tenang.
“memangnya kamu nggak bisa ya ditinggalin dia?!”. Nada suranya mulai meninggi
“apa yang harus ditinggalkan? Nggak ada yang harus ditinggalkan dan
meninggalkan antara aku dan dia karena memang nggak ada apa-apa.”jelasku
yang masih berusaha tenang.
“dengar ya!, dia cowok aku!”. Begitulah pengakuannya
“lalu kenapa?”
“aku nggak suka kamu berhubungan dengan dia dan curhat sama dia karena sebenarnya dia keberatan mendengar curhatan kamu! dan aku mewakili dia untuk bilang hal ini ke kamu!”.
“jadi kamu melarang aku berteman dengan dia?”
“aku nggak melarang kamu berteman dengan dia!.”
“lalu apa?, Perlu kamu tahu bahwa terakhir aku curhat sama dia kira-kira sebulan
yang lalu, aku pun jarang kontak sama dia karena kita punya kesibukan masing-
masing. Jadi bukan alasan kamu untuk marah-marah dan melarang aku berteman
dengan dia.” Ujarku yang mulai terpancing emosi karena pedih mendengar
pernyataannya.
“kamu kan sudah tunangan jadi curhat saja dengan tunangan kamu, nggak usah curhat dengan cowok orang!”begitulah pintanya.
Lagi-lagi aku terkejut mendengar pernyataannya yang mengetahui hal pribadiku meski tidak sesuai dengan realita yang aku jalani sebab aku batal bertunangan beberapa bulan yang lalu dengan lelaki yang merupakan salah satu orang terdekat orang tuaku.
“memang kenapa kalau aku sudah tunangan dan masih curhat dengan dia?”
Aku tak berusaha menyangkal pernyataannya dan berusaha menutupi kebenarannya karena mungkin lelaki cina itu telah membeberkan hal pribadiku kepadanya untuk mempertahankan perempuan itu yang terus mengintrogasiku, lagi pula aku tak ingin merusak hubungan mereka.
“ya jelas aku nggak suka!.” Jawabnya dengan tegas.
“kamu takut kehilangan dia?!”
“aku nggak takut kehiangan dia!”
“oh ya?, sebenarnya dengan kamu menelepon aku dan marah-marah seperti ini
sudah menandakan bahwa kamu takut kehilangan dia!” ucapku dengan tegas pula membalikkan pernyataannya.
“kamu pintar banget membalikkan keadaan ya?!” serunya dengan suara yang semakin meninggi.
“oh jelas, saya orang sosial yang tiap hari kerjanya berdiskusi, mengkritisi dan
menganalisis keadaan, Mbak! Jadi jangan harap bisa menang dalam berbiacra
dengan saya!.” Aku pun meradang
Si Bunga baru itu pun meledak-ledak dengan kata-kata yang kasar berusaha mencerca tanpa henti.
“Ok..ok..!” aku berusaha menghentikan caci makinya kepadaku.
“kita orang berpendidikan, kita bisa bicara baik-baik dengan logika bukan
emosi!.” Ajakku untuk meredam emosinya.
“aku memang bukan orang berpendidikan! Aku memang bukan orang baik!, jadi
nggak bisa bicara baik dan benar!.”
Aku terdiam sejenak mendengar pernyataannya tersebut sambil bertanya-tanya dalam hati, Inikah perempuan yang dipilih lelaki itu? Perempuan yang aku kira hampir sempurna lengkap dengan keintelektualitasannya?,ternyata jauh dari yang aku kira.
“ok, kita bisa bicara secara perempuan kan ?”
“siapa bilang aku cowok!, jelas aku ceweklah!.” Tuturnya dengan gamang.
Aku sedikit tertawa menghadapinya yang tidak mengerti dengan maksud ucapanku.
“maksudnya kita bisa bicara dari hati ke hati sebagai perempuan, Mbak!” ucapku mencoba menjelaskan.
“aku nggak mau tahu, yang jelas aku ceweknya dan aku nggak suka kamu
berhubungan dengan dia dan masih curhat sama dia!.”
“ya sudah kalau begitu suruh dia telepon aku dan setelah itu aku nggak akan
berhubungan lagi dengan dia!.” Pintaku untuk menyelesaikan masalah.
“ngapain? Nanti kamu ngadu sama dia!”
“udahlah, kalau begitu anda salah orang!.”
Aku segera menutup pembicaraan itu dengan mematikan telepon selularku.
Aku menjadi tidak mengerti akan hal yang aku anggap paling aku tahu. Awal cerita yang indah tidak membuat manusia mampu mengeneralisasikan akhir dari cerita tersebut.
Selasa, 02 September 2008
di balik cerita KMPSR '05
KMPSR ‘05 yaitu Keluarga Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Reguler 2005 di UNJ. KMPSR ‘05 merupakan nama kelas kebanggaan dari mahasiswa/i pendidikan sosiologi yang merupakan angkatan pertama yang terseleksi melalui jalur SPMB pada jurusan sosiologi UNJ. Didalamnya terdapat 25 mahasiswa, 20 perempuan dan 5 laki-laki yang berasal dari beberapa kota di Indonesia, diantaranya berasal dari kota Bekasi, Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, bahkan ada yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat dan Jawa Barat. Mereka tergabung dalam satu kelas yang dikenal aktif oleh dosen-dosen sosiologi di UNJ, begitulah menurut penuturan salah satu staff pengajar jurusan sosiologi serta menurut beberapa pengakuan dosen-dosen yang pernah mengajar mahasiswa pendidikan sosiologi regular ’05. Meski berasal dari daerah yang berbeda-beda namun tidak terdapat banyak kendala besar yang dihadapi KMPSR ’05 tersebut, hal itu terbukti dari proses sosialisasi dan interaksi yang berjalan dengan baik dan lancar dalam proses awal perkuliahan hingga sekarang ini yang telah memasuki tahun ketiga. Bukan hanya terkenal aktif dalam berbagai diskusi kelas tiap mata kuliah, tetapi juga menurut penuturan senior sosiologi angkatan 2004 yang tidak mau disebutkan namanya tersebut, KMPSR ’05 merupakan kelas terkompak atau tersolid dalam istilah bahasa gaulnya diantara kelas yang lainnya dijurusan sosiologi sejak menjalani masa pengenalan akademik pada awal masuk UNJ. Berdasarkan indeks prestasi semesternya pun mahasiswa sosiologi reg’05 tersebut sangat membanggakan, dimana dalam indeks prestasi kumulatifnya mencapai rata-rata 3 koma. Namun kesuksesan dalam indeks prestasi tersebut tidak diikuti dengan prestasi dalam organisasi-organisasi atau unit kegiatan mahasiswa yang ada di UNJ. Terhitung hanya beberapa orang saja yang aktif mengikuti organisasi seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIS dan beberapa organisasi diluar UNJ, selebihnya mereka menjadi mahasiswa yang sepi dari berbagai kegiatan yang tidak ada keterkaitannya dengan kegiatan perkuliahan.
Tentunya dalam suatu kelas terdapat suatu struktur yang membantu dan membangun proses berjalannya perkuliahan sebagaimana sebuah organisasi dibentuk, begitu pun halnya dengan KMPSR ’05 tersebut yang memiliki struktur yang tak pernah berubah sejak awal terbentuknya. KMPSR ’05 diketuai oleh Teuku Tiar Hardiansyah, seorang mahasiswa keturunan Aceh dan Betawi yang berdomisili di Ciganjur, Jakarta Selatan. Seorang ketua yang selalu rela berkorban dalam hal materi maupun non materi untuk tetap menjaga komunikasi pada tiap rekan-rekannya yang tentunya guna menunjang lancarnya perkuliahan. Wakil ketua KMPSR ’05 adalah Ahmad Tarmiji Alqudri, seorang yang cukup religius dan genius tetapi sedikit tak ramah dalam membagi ilmunya, begitulah menurut beberapa rekan-rekannya. Berikutnya jabatan sekretaris I dijabat oleh Archita Deasy, wanita mungil yang aktif dalam organisasi kampus tetapi tidak diiringi dengan absent kuliah yang bagus. Jabatan sekretaris II dijabat oleh Fitri Maharis melalui pengangkatan jabatan secara khusus karena dipilih langsung oleh ketua KMPSR ’05 dan tentunya dengan persetujuan rekan-rekan dalam KMPSR ’05. Jabatan lainnya yaitu bendahara di pegang oleh Dewi Agustina Sianturi, mahasiswi asal Depok berdarah Batak yang kerap menjadi icon dikelas.
Dalam KMPSR ’05 ini juga terdapat fenomena kebanyakan seperti yang terjadi pada kelas-kelas lain dimana terbentuknya kelompok-kelompok keakraban tertentu, diantaranya adalah nine geisha dan power rangers. Nine geisha terdiri dari 9 mahasiswi yang menarik dan penuh suka cita serta berbagai keanehan-keanehan dalam interaksinya. Mereka terkenal kompak dan memiliki solidaritas yang tinggi satu sama lain. Mereka juga terkenal heboh dan selalu tak terpisahkan hingga tak heran mereka menjadi salah satu kelompok yang sukses yang dapat menarik perhatian dari kelas-kelas lain. Meski tak pernah berniat untuk menambah jumlah anggotanya, kelompok nine geisha ini tak pernah menutup diri atau sekedar membatasi diri dengan siapapun. Mereka selalu membaur bersama mahasiswa lain dan tak segan untuk mengajak rekan-rekan diluar nine geisha untuk bergabung dalam acara internnya. Sesuai dengan jurusan yang menaunginya yaitu sosiologi, mereka selalu bersosialisasi dengan baik dikelas maupun diluar kelas. Nine geisha kerap menjadi kelompok penghibur kelas dengan ide-ide yang terkadang diluar logika, bahkan ketika berada diluar kelas mereka tak malu-malu menunjukkan eksistensi mereka pada komunitas UNJ. Tetapi mereka bukan kelompok yang bergaya borjuis ataupun kelompok yang mengganggu keberadaan kelompok lain. Mereka kelompok yang senantiasa bergaya proletar yang tidak mengenal tempat untuk berkumpul, dimana pun mereka selalu merasa nyaman.
Kelompok lain yang juga terbentuk dengan sendirinya yaitu power rangers. Kelompok yang terdiri dari 5 orang mahasiswa gagah perkasa yang senantiasa selalu melindungi KMPSR ’05 dalam hal dan keadaan apapun. Jumlahnya yang minoritas dari perempuan membuat mereka sangat kompak dan akrab. Tetapi meski dalam jumlah yang minoritas tersebut tak membuat mereka menjauh dari nine geisha atau mahaiswi lain dikelas, mereka juga mengikuti jejak nine geisha yang selalu membaur dan bergabung dengan siapapun.
Begitulah sedikit pengamatan mengenai KMPSR ’05 di UNJ yang dapat mengungkapkan sedikit cerita dibalik kelas yang aktif, kompak dan taat peraturan. Sebuah pengamatan yang tidak terlepas dari sosialisasi dan interaksi.
Tentunya dalam suatu kelas terdapat suatu struktur yang membantu dan membangun proses berjalannya perkuliahan sebagaimana sebuah organisasi dibentuk, begitu pun halnya dengan KMPSR ’05 tersebut yang memiliki struktur yang tak pernah berubah sejak awal terbentuknya. KMPSR ’05 diketuai oleh Teuku Tiar Hardiansyah, seorang mahasiswa keturunan Aceh dan Betawi yang berdomisili di Ciganjur, Jakarta Selatan. Seorang ketua yang selalu rela berkorban dalam hal materi maupun non materi untuk tetap menjaga komunikasi pada tiap rekan-rekannya yang tentunya guna menunjang lancarnya perkuliahan. Wakil ketua KMPSR ’05 adalah Ahmad Tarmiji Alqudri, seorang yang cukup religius dan genius tetapi sedikit tak ramah dalam membagi ilmunya, begitulah menurut beberapa rekan-rekannya. Berikutnya jabatan sekretaris I dijabat oleh Archita Deasy, wanita mungil yang aktif dalam organisasi kampus tetapi tidak diiringi dengan absent kuliah yang bagus. Jabatan sekretaris II dijabat oleh Fitri Maharis melalui pengangkatan jabatan secara khusus karena dipilih langsung oleh ketua KMPSR ’05 dan tentunya dengan persetujuan rekan-rekan dalam KMPSR ’05. Jabatan lainnya yaitu bendahara di pegang oleh Dewi Agustina Sianturi, mahasiswi asal Depok berdarah Batak yang kerap menjadi icon dikelas.
Dalam KMPSR ’05 ini juga terdapat fenomena kebanyakan seperti yang terjadi pada kelas-kelas lain dimana terbentuknya kelompok-kelompok keakraban tertentu, diantaranya adalah nine geisha dan power rangers. Nine geisha terdiri dari 9 mahasiswi yang menarik dan penuh suka cita serta berbagai keanehan-keanehan dalam interaksinya. Mereka terkenal kompak dan memiliki solidaritas yang tinggi satu sama lain. Mereka juga terkenal heboh dan selalu tak terpisahkan hingga tak heran mereka menjadi salah satu kelompok yang sukses yang dapat menarik perhatian dari kelas-kelas lain. Meski tak pernah berniat untuk menambah jumlah anggotanya, kelompok nine geisha ini tak pernah menutup diri atau sekedar membatasi diri dengan siapapun. Mereka selalu membaur bersama mahasiswa lain dan tak segan untuk mengajak rekan-rekan diluar nine geisha untuk bergabung dalam acara internnya. Sesuai dengan jurusan yang menaunginya yaitu sosiologi, mereka selalu bersosialisasi dengan baik dikelas maupun diluar kelas. Nine geisha kerap menjadi kelompok penghibur kelas dengan ide-ide yang terkadang diluar logika, bahkan ketika berada diluar kelas mereka tak malu-malu menunjukkan eksistensi mereka pada komunitas UNJ. Tetapi mereka bukan kelompok yang bergaya borjuis ataupun kelompok yang mengganggu keberadaan kelompok lain. Mereka kelompok yang senantiasa bergaya proletar yang tidak mengenal tempat untuk berkumpul, dimana pun mereka selalu merasa nyaman.
Kelompok lain yang juga terbentuk dengan sendirinya yaitu power rangers. Kelompok yang terdiri dari 5 orang mahasiswa gagah perkasa yang senantiasa selalu melindungi KMPSR ’05 dalam hal dan keadaan apapun. Jumlahnya yang minoritas dari perempuan membuat mereka sangat kompak dan akrab. Tetapi meski dalam jumlah yang minoritas tersebut tak membuat mereka menjauh dari nine geisha atau mahaiswi lain dikelas, mereka juga mengikuti jejak nine geisha yang selalu membaur dan bergabung dengan siapapun.
Begitulah sedikit pengamatan mengenai KMPSR ’05 di UNJ yang dapat mengungkapkan sedikit cerita dibalik kelas yang aktif, kompak dan taat peraturan. Sebuah pengamatan yang tidak terlepas dari sosialisasi dan interaksi.
Langganan:
Komentar (Atom)