Sabtu, 26 September 2009

dinginnya air mata

aku bukan hasil dari jalang yang terbuang,, tapi titik awal sebelum nyawaku ditiupkan ke dalam rahim, hidupku memang berawal dari rasa kasihan. aku bukan berlian yang di timang-timang sang ratu dan raja seperti yang orang-orang kira, tapi aku butiran pasir yang diolah menjadi satu bentuk sebagai hasil dari seribu keinginan seorang kepala keluarga selama berbelas-belas tahun. aku tumbuh diantara pecahan-pecahan gelas, pecahan piring serta berbagai macam perabot rumah tangga lainnya yang kerap tak berbentuk lagi akibat lemparan emosi, dan aku ingat lekat-lekat bagaimana suara benturan benda-benda itu mengaduh. aku juga tumbuh diiringi nyanyian emosi dari nada suara paling tinggi manusia yang tak layak aku dengar, aku adalah remukan yang tertinggal dari adegan 2 manusia yang tak harmonis, aku adalah memar tanpa sebuah pukulan fisik, dan aku adalah nafas yang sesak oleh karena hal yang aku lihat, dengar, dan rasakan dari 2 manusia angkuh yang orang-orang sebut bapak dan ibu. aku adalah jiwa yang sakit tanpa melewati pembaringan lemas diatas tempat tidur, maka jadilah aku penghasil air mata untuk hidupku yang aku tuangkan pada bantal, guling sebagai lukisan kesedihan yang abstrak. dan aku lah pencari tawa dan bahagia yang tidak aku temukan pada sebuah istana yang orang sebut keluarga.

Tidak ada komentar: